Depan

MenangPilkada.com

Untuk mendapatkan kedudukan atau jabatan, selain diraih dengan usaha yang logis, sering kali dilakukan juga usaha penunjang yang bersifat gaib atau supranatural. Hal ini dianggap wajar, karena kebanyakan manusia, apapun agamanya meyakini, dibalik alam yang nyata itu ada “kekuatan lain” yang bisa mewarnai perjalanan hidupnya.


Yang dimaksud “kekuatan lain” itu, bisa berasal banyak hal, tergantung taraf spiritual seseorang. Ada yang meyakini bahwa melalui “pemujaan” atau bersekutu dengan makhluk-makhluk gaib tertentu menyebabkan seseorang dapat memperoleh pangkat, derajat dan apa yang diinginkan.


Menang PilkadaAda juga pihak lain yang lebih meyakini bahwa senjata yang paling ampuh adalah kekuatan doa. “Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, cahaya langit dan bumi” (Hadits) . Khusus untuk kepentingan yang besar, doa itu dirangkum dan disertai olah batin tertentu, dengan harapan efeknya lebih maksimal untuk mengantarkan seseorang dapat memperoleh kekuasaan dari Dzat Yang Maha Kuasa, kemuliaan dari Dzat Yang Maha Mulia dan pertolongan dari Dzat Yang Maha Menolong.


Untuk urusan politik, tradisi memanfaatkan kekuatan supranatural itu selalu ada. Mulai dari level yang paling rendah saat Pilkades (pilihan kepala desa) hingga level yang lebih tinggi, jasa dibidang supranatural itu memiliki tempat tersendiri.


Selain dengan kekuatan doa, ada ikhtiar lain yang diyakini sebagian masyarakat Jawa. Menjelang event pilihan lurah atau kepala desa, pakaian ( baju, celana, sarung, peci) miliki pejabat sebelumnya diperebutkan para calon. Mereka meyakini, pakaian yang sering digunakan seorang pemimpin itu masih menempel sisa-sisa “aura kekuasaan” yang dulu pernah melekat pada dirinya. Dan jika pakaian itu dipakai oleh orang lain, maka yang mengenakan pun bisa mendapat “suntikan” pengaruh dari pemimpin sebelumnya.


Tradisi “mengais aura” bisa dilakukan dengan meminjam atau memiliki pakaian, peci, atau benda ageman (pusaka, cincin) milik pemimpin sebelumnya. Jika pemimpin sebelumnya itu sudah meninggal, diziarahi makamnya. Bahkan ada juga para calon yang melakukan tapabrata pada makam para raja.